Anak Muda Bangsa di 2030 Youth Force Indonesia

Banyaknya wadah semacam komunitas dan organisasi di Indonesia yang kian memberikan warna unik di bangsa ini. Kegiatan mereka adalah murni inisiatif dan rasa peduli dari anak muda pada kondisi lingkungannya. Dari mulai mengangkat isu perubahan lingkungan, korupsi, donor darah, pendidikan, budaya, hingga binatang menjadi topik pembicaraan dan aksi yang mereka lakukan.

Mungkin berbeda dari yang lain, pada akhir tahun 2016 lalu sebuah platform baru, yakni 20 anak muda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Kantor UNDP Indonesia untuk mendeklarasikan diri menjadi tim 2030 Youth Force Indonesia. Tim ini berisikan para pemuda Indonesia yang mayoritas mahasiswa S1 atau S2 dan mereka pemuda yang peduli di bidang terkait lingkungan, pendidikan, atau sosial lainnya.

Berbagai macam background tersebut membuat alasan untuk bersatu dan memperjuangan masa depan secara bersama-sama ke depannya. Saat ini fokus kerja tim 2030 Youth Force Indonesia adalah mengajak khususnya para pemuda bangsa Indonesia untuk lebih tahu dan turut berpartisipasi aktif menyukseskan mimpi di Tahun 2030 yang tertera pada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Dunia.

Program 2030 Youth Force Indonesia hadir sebagai representatif anak muda bangsa sebagai wadah bersatunya pemuda bangsa untuk memperjuangkan nasib masa depan di Tahun 2030 dan ke depannya. Dengan agenda global, memperhatikan 17 isu SDGs. Bukan alasan bagi pemuda di daerah jauh dan pelosok untuk tidak bisa bergabung menjadi bagian dari 2030 Youth Force Indonesia. Semua pemuda Indonesia bisa bergabung sebagai changemakers 2030 Youth Force Indonesia.

Pilar utama platform ini adalah “No One Left Behind” atau tidak ada satupun yang dilupakan. Semua harus berperan aktif dan bersama. Salah satu bentuk inklusif platform ini adalah adanya salah satu anggota tim difabel. Dunia sudah mengakui sosok ini. Dialah Sikdam Hasyim. Jika kita cek pada mesin pencarian Google dengan keyword “Sikdam Hasyim”, pasti segudang capaian Sikdam Hasyim dapat kita ketahui.

Ia bergabung dan turut mendeklarasikan diri menjadi Tim 2030 Youth Force Indonesia. Itulah sebuah contoh bahwa platform ini benar-benar inklusif dan semua pemuda bangsa Indonesia bisa bergabung dengan tim ini. Optimisme inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Berbeda latar belakang dan tempat tinggal bukan alasan untuk tidak tergabung.

Di sinilah wadahnya pemuda harapan bangsa untuk bersatu memperjuangkan apa yang ia mampu untuk membangun bangsanya sendiri lewat berbagai cara. United Nation (UN) Indonesia mendukung cikal bakal platform ini. Ke depannya harapan gayung bersambut dapat hadir dari Pemerintah Pusat dan Daerah untuk turut mendukung 2030 Youth Force Indonesia.

Yang terpenting saat ini hanya satu, yakni seluruh pemuda bangsa Indonesia turut bergabung menjadi bagian dari 2030 Youth Force Indonesia. Ini sudah tidak bisa ditunda lagi. Dan inilah saatnya bersatu untuk masa depan yang lebih baik. Luki antoro – 2030 Youth Force chapter Yogyakarta

We are 2030!

For the first time the world agreed that youth empowerment is a way to deliver on the Sustainable Development Goals (SDGs). This presents enormous opportunities and expectations on young people.

Emiliya Asadova is the UNV Regional (Asia-Pacific) Youth Programme Specialist in Bangkok, Thailand.(UNV, 2016)

For the first time the world agreed that youth empowerment is a way to deliver on the Sustainable Development Goals (SDGs). This presents enormous opportunities and expectations on young people. How can the UN support, empower and prepare youth to be the driving force for the SDGs? In Asia and the Pacific, the United Nations Volunteers (UNV) programme, jointly with the United Nations Development Programme (UNDP), are developing a regional partnership with and for youth to deliver on the SDGs by 2030.

In March 2016 we asked young change makers in the Asia and the Pacific region to send us video stories that articulate their vision of the future, along with examples of volunteer actions they are taking to make societies more inclusive and peaceful. An amazingly diverse group of 19 extremely brave young people from Asia and the Pacific were selected, and their work was an example of the great capacities of this generation.

Why? Some of these young people have learnt sign language to be able to work with youth with disabilities, and one of them created the Youth Diversity Alliance at the age of 22 in Indonesia. Another, amidst all the country’s challenges, started the first-ever food bank at the age of 25 in Vietnam to fight poverty and contribute to sustainable consumption. And finally, a young woman living with HIV in Nepal empowered young populations to raise their unheard voices, providing them with a platform for a strong unified voice.

We gathered this group for the first workshop “We Are 2030: Youth Driving Forward Inclusive and Peaceful Societies in Asia-Pacific” in Bangkok in June 2016. Through youth-led sessions on regional development challenges, conflict prevention and inclusion, the group agreed that through volunteerism young people can achieve more and “leave no one behind”.

Some members realized only at the workshop that they are in fact volunteers in everything they do as social advocates and activists, but there is still a lack of skills-based volunteerism, a lack of understanding of volunteerism in the region, and a need for cross-border volunteer exchanges, for “offline” impact of volunteerism and for better measuring of volunteer activities.

The workshop culminated with the unquestioning willingness of youth to work together on difficult topics related to inclusion. It was clear that these young people were demanding a space for regional action, and UNV and UNDP welcomed it and will continue to provide support.

In the presence of numerous partners and supporters, the Regional Asia-Pacific Youth Network was launched. Young change makers chose “2030 Youth Force” as an empowering name for the network. Armed with knowledge on inclusive and peaceful societies, they presented regional and country-level youth-led activities targeted at the SDGs. As a first step and in order to raise awareness and attract more young people to this movement of inclusion and change, the group plans to launch a massive campaign in social media under the hashtag #sendloveON, addressed to other young people in the region to act in their communities and share stories of change.

My greatest learning from the workshop was that young people need a common space and opportunities to drive the SDGs in the next 15 years, and they have all the skills and capacities to do so. Inviting them to be at a table to take part in discussions of national development plans or localization of the SDGs is all that it takes.


Emiliya Asadova is the UNV Regional (Asia-Pacific) Youth Programme Specialist in Bangkok, Thailand.